Mengukuh Regenerasi, Menjaga Spektrum: Orlok Bukittinggi Agam Sukses Gelar UNAR Non Reguler Ke-II 2025
iNews Bukittinggi– Dalam upaya menegakkan tertib penggunaan frekuensi radio dan membangun generasi operator amatir yang kompeten, Organisasi Amatir Radio Indonesia Lokal (Orlok) Bukittinggi Agam-YH5AK bersama Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio (Balmon SFR) Kelas II Padang menyelenggarakan Ujian Negara Amatir Radio (UNAR) Non Reguler ke-II tahun 2025. Acara yang digelar pada Sabtu, 20 September 2025, di SMA Negeri 1 Ampek Angkek, Nagari Lambah, Kabupaten Agam ini menjadi bukti nyata komitmen kolektif dalam memajukan dunia amatir radio di Sumatera Barat.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar ujian, tetapi merupakan sebuah gerakan strategis untuk meregenerasi anggota, meningkatkan kompetensi teknis, dan mengingatkan kembali pada filosofi dasar amatir radio di tengah gempuran era digital.
Landasan Hukum dan Spirit Amatir Radio
Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI Nomor 17 Tahun 2018, amatir radio bukan sekadar hobi “berbicara” di udara. Kegiatan Amatir Radio didefinisikan sebagai telekomunikasi yang memanfaatkan gelombang radio untuk menumbuhkan ilmu pengetahuan, penyelidikan teknis, dan pertukaran informasi terkait teknik radio dan elektronika. Setiap operatornya, yang disebut Amatir Radio, wajib memiliki Izin Amatir Radio (IAR) yang diperoleh melalui proses UNAR untuk menetapkan tingkat kecakapannya, mulai dari tingkat Siaga, Penggalang, hingga Penegak.
Baca Juga: Kota Bukittinggi Raih Capaian PAD Tertinggi se-Sumbar dan Terbaik Ke-4 Nasional
UNAR inilah yang menjadi pintu gerbang bagi setiap calon amatir radio untuk bergabung secara legal dan bertanggung jawab.
Sinergi Membangun Kader Berkualitas
Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan dari berbagai instansi dan organisasi, mencerminkan kolaborasi yang solid. Balmon SFR Kelas II Padang diwakili oleh Adrisoni, Ketua Tim Sarana dan Prasarana, mewakili Kepala Balmon M. Helmi. Orari Daerah Sumatera Barat (Orda Sumbar) hadir melalui Wakil Sekretaris, Nofiardi-YC5GRN, mewakili Ketua Orda Sumbar Audy Joinaldy-YC5AUJ. Sementara Orlok Bukittinggi Agam diwakili oleh Wakil Ketua, Dedi Fatria, SH, MH-YC5AWC, mewakili Ketua Syahrul Junaidi-YB5AJO.
Dalam sambutannya, Adrisoni menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya acara ini. Ia menekankan harapannya agar seluruh peserta dapat lulus 100% dengan nilai terbaik. Lebih dari itu, ia mengingatkan esensi dari menjadi seorang amatir radio.
“Kita amatir radio lebih difokuskan kepada bidang elektronika, teknik radio, dan komunikasi. Jadi bukannya hanya sekedar untuk cuap-cuap saja,” ujarnya tegas. Pesan ini menyentuh pada kekhawatiran banyak pihak tentang pergeseran fungsi frekuensi amatir radio. Adrisoni mengungkapkan, sejak maraknya media sosial, frekuensi radio yang telah disahkan justru banyak yang sepi, berbeda dengan masa lalu yang sangat padat.
“Harapan kami dari Balai Monitor, tolong diaktifkan frekuensi masing-masing Orari lokal dan juga pergunakanlah frekuensi sesuai peruntukannya,” pesannya. Ia mengajak seluruh anggota untuk lebih proaktif berkomunikasi di frekuensi yang telah disahkan, bukan hanya memantau (monitor) saja.
Orda Sumbar: Dari Ujian ke Keanggotaan Organisasi
Nofiardi-YC5GRN dari Orda Sumbar memberikan penjelasan penting tentang langkah setelah lulus UNAR. Ia menegaskan bahwa kelulusan UNAR dan memiliki IAR dari Balmon harus diikuti dengan keaktifan dalam organisasi.
“Semua calon anggota Orari yang sudah lulus… hendaknya segera melapor kepada induk organisasinya di masing-masing Orari lokal. Karena mereka harus masuk ke dalam suatu organisasi yaitu namanya Orari,” jelas Nofiardi.
Ia mengungkapkan bahwa jumlah anggota terdaftar di Orda Sumbar mencapai 2000-3000 orang, namun banyak yang masa berlaku IAR-nya telah habis. Orda Sumbar pun aktif mendorong setiap Orlok untuk mendata kembali anggotanya dan membantu proses perpanjangan IAR secara online. Komitmen ini crucial menyambut Musyawarah Daerah (Musda) Orda Sumbar tahun 2026, yang mensyaratkan kuota keaktifan lokal.
“Kami siap membantu menghidupkan kembali lokal-lokal yang sudah tertidur,” tegasnya.
Bukittinggi Agam: Contoh Lokal yang Tangguh dan Progresif
Kepala Bidang Operasi Teknik Orlok Bukittinggi Agam, Suhardedi-YB5DDE atau yang akrab disapa Om Ded, memaparkan capaian konkret mereka. UNAR tahun ini diikuti oleh 37 peserta, dengan 20 orang di antaranya berasal dari Bukittinggi Agam. Komposisinya adalah 31 orang tingkat Siaga, 4 orang Penggalang, dan 2 orang Penegak.
“Kita berusaha setiap tahun menambah anggota… ini menampakkan keberlangsungan organisasi dan regenerasinya berjalan terus,” ujar Om Ded dengan bangga.
Ia juga membeberkan segudang agenda Orlok Bukittinggi Agam di tahun 2025, menunjukkan dinamika yang tinggi. Mulai dari kegiatan Jambore On The Air (JOTA) dan Jambore On The Internet (JOTI) untuk pramuka yang akan diisi lomba fox hunting, morse, SSTV, dan merakit antena; pelatihan tim Communication and Rescue (CORE); hingga pelantikan pengurus periode 2025-2028.
Yang patut diacungi jempol adalah aksi nyata tim CORE Orlok Bukittinggi Agam yang hampir sebulan penuh sibuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kemarau panjang di Nagari Biaro Gadang, Kabupaten Agam. Ini membuktikan bahwa amatir radio bukan hanya tentang teori dan gelombang, tetapi juga tentang dedikasi kepada masyarakat.
Keberhasilan UNAR Non Reguler ke-II ini adalah sebuah titik terang. Atas arahan Balmon SFR, dukungan Orda Sumbar, dan kerja keras pengurus serta anggota Orlok Bukittinggi Agam, regenerasi terus berjalan. Setiap call sign baru yang lahir dari ujian ini bukan hanya sekadar identitas panggil, tetapi adalah janji untuk menjaga etika di udara, mendalami ilmu radio elektronika, dan siap siaga menjadi cadangan komunikasi nasional—sesuai dengan spirit yang tertuang dalam peraturan menteri.
Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian seperti ini, Orlok Bukittinggi Agam tidak hanya sekadar menjaga frekuensi, tetapi juga menjaga nyala api semangat keamatiran radio yang sesungguhnya: untuk ilmu, untuk persaudaraan, dan untuk kemanusiaan. Mereka adalah bukti bahwa di tengah deru digital, gelombang radio tetap memiliki denyut nadinya sendiri, menghubungkan bukan hanya suara, tetapi juga hati dan semangat gotong royong.












