Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Dalam Simposium Nasional, Bukittinggi Diangkat Kembali sebagai Kota Istimewa

Dalam Simposium Nasional, Bukittinggi Diangkat Kembali sebagai Kota Istimewa

Shoppe Mall

Bukittinggi: Lebih dari Sekadar Cerita, Sebuah Narasi Keistimewaan yang Terkubur Zaman

iNews Bukittinggi– Dalam sebuah simposium bertajuk “Bukittingga Kota Istimewa: Peluang dan Tantangan” pada 28 September 2025, penulis didaulat sebagai panelis untuk membahas satu pertanyaan mendasar: seberapa penting posisi kampung halaman proklamator Bung Hatta ini? Jawabannya ternyata merentang jauh melampaui keindahan alamnya yang memesona, menukik ke dalam pusaran sejarah yang menempatkannya sebagai salah satu pilar penting Republik Indonesia.

Dari Nagari Kurai V Jorong ke Permata Dataran Tinggi

“Bukittinggi adalah kota kecil yang terletak di tengah-tengah Daratan Tinggi Agam. Letaknya indah di ujung kaki Gunung Marapi dan Singgalang,” demikian Bung Hatta menarasikan ranah kelahirannya dengan penuh rindu. Sebelum menjadi kota yang kita kenal sekarang, kawasan ini adalah Nagari Kurai V Jorong, sebuah wilayah dengan udara sejuk (16,9–23° Celcius), langit cerah, dan panorama perbukitan hijau yang memanjakan mata.

Shoppe Mall
Dalam Simposium Nasional, Bukittinggi Diangkat Kembali sebagai Kota Istimewa
Dalam Simposium Nasional, Bukittinggi Diangkat Kembali sebagai Kota Istimewa

Baca Juga: Langkah Nyata Wawako Ibnu Asis dan Kejari Perkuat Perisai Hukum Anti Narkoba

Topografinya unik dan dramatis. Dari ketinggian 900–1.100 meter di atas permukaan laut, perjalanan menuju Bukit Gadang bisa mencapai ketinggian 2000 meter. Di sela-selanya, mengalir Batang Masang, sungai yang berkelok mengikuti lekuk Ngarai Sianok (dulu disebut karbauwengat), membelah bumi sebelum melewati jantung kota yang dulu bernama Fort de Kock.

Metamorfosis: Dari Akar Tradisi Menuju Wajah Kolonial

Transformasi Bukittinggi menjadi kota bercorak kolonial berawal dari gejolak politik abad ke-19. Terbentuknya Pasar Ateh di Bukik Kubangan Kabau tidak bisa dipisahkan dari konflik Padri dan keruntuhan Kerajaan Pagaruyung. Titik baliknya terjadi pada tahun 1820, dalam sebuah pertemuan adat suku Kurai yang dihadiri petinggi kolonial Belanda. Dalam pertemuan bersejarah itu, disepakati perubahan nama dari Bukik Kubangan Kabau menjadi Bukik Nan Tatinggi, yang kemudian melunakkan lidah menjadi Bukittinggi.

Sebagai imbalan, pemerintah kolonial diizinkan mendirikan fort (benteng), overheidsgebouw (bangunan pemerintahan), dan fasilitas pendukungnya di atas bukit-bukit yang disediakan oleh penghulu Kurai. Maka lahirlah Fort de Kock, yang tidak hanya sekadar benteng pertahanan, tetapi juga kawasan permukiman Eropa yang lengkap dengan tangsi militer, rumah opsir KNIL, dan pemandangan Ngarai Sianok sebagai latar belakangnya yang eksotis.

Pembangunan masif terus berlanjut. Gevangenis (penjara) didirikan pada 1840, disusul Kweekschool atau Sekolah Raja (1856) yang menjadi pusat pendidikan modern. Kemajuan transportasi ditandai dengan dibangunnya rel kereta api oleh Staatsspoorwegen yang menghubungkan Padang Panjang–Fort de Kock–Payakumbuh. Untuk hiburan, dibangunlah paardenrennen (pacuan kuda) di Bukit Ambacang pada 1889.

Dampaknya luar biasa. Bukittinggi menjadi magnet bagi berbagai etnis. Etnis Tionghoa membangun Kampung Pondok, etnis Nias di Kampung Nias, dan keturunan India di Kampung Kaliang. Dalam waktu singkat, kota ini berubah menjadi mosaik budaya yang hidup dan dinamis.

Puncak Kejayaan Kolonial: Dari Taman Bunga hingga Jam Gadang

Pemerintah kolonial sadar betul akan potensi pariwisata Bukittinggi. Setelah memanfaatkan keindahan Ngarai Sianok, pada 1900 mereka membangun stormpark (taman bunga) di Bukit Malambuang. Pada 1925, berdiri Jamespark, yang empat tahun kemudian disulap menjadi kebun binatang (dierentuin) untuk menambah daya tarik wisatawan.

Namun, mahkota dari semua pembangunan ini hadir pada 1926: Klokketoren, sebuah menara jam yang oleh orang Minang disebut Jam Gadang. Menara ini tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga simbol perpaduan arsitektur kolonial dengan atap bergonjong khas Minangkabau, sebuah ikon yang abadi.

Menyempurnakan fasilitas kota, sektor swasta pun bergerak. Pada akhir 1920-an, dibangunlah Hotel Centrum, sebuah penginapan mewah dan luks dengan luas kompleks 4.307 m², menjawab kebutuhan wisatawan Eropa dan lokal yang semakin banyak. Sebagai ibukota dari Padangsche Bovenlanden (dataran tinggi Padang), Bukittinggi mantap menjadi pusat pemerintahan, pemerintahan, dan kebudayaan hingga kedatangan tentara pendudukan Jepang.

Shoppe Mall